Kamis, 26 Desember 2013

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
            Setiap orang akan berbeda dalam cara mempresentasikan diri mereka. Beberapa orang lebih menyadari tentang kesan publik mereka, beberapa orang mungkin lebih menggunakan persentasi diri yang straregik, sementara yang lain lebih menyukai pembenaran diri (verifikasi diri). Menurut Mark Snyder (1987), perbedaan ini berkaitan dengan suatu ciri sifat kepribadian yang disebut dengan self-monitoring yaitu kecenderungan mengatur perilaku untuk menyesuaikan dengan tuntutan-tuntutaan situasi sosial. Dengan demikian, self-monitoring adalah kecenderungan untuk merubah perilaku dalam merespon terhadap presentasi diri yang dipusatkan pada situasi (Brehm & Kassin, 1993). Atau menurut Worchel, dkk. (2000), self-monitoring adalah menyesuaikan perilaku terhadap norma-norma situasional dan harapan-harapan dari orang lain. Sementara Brigham (1991) menyatakan self-monitoring merupakan proses dimana individu mengadakan pemantauan (memonitor) terhadap pengelolaan kesan yang telah dilakukannya.
            Sebuah fakta dalam kehidupan sehari-hari  bahwa sebuah kebutuhan untuk menampilkan diri dengan baik atau membuat sebuah kesan baik dihadapan orang lain, perilaku tersebut mengacu pada Self Presentation  atau managemen kesan.  Self Presentation muncul ketika seseorang sadar bahwa dia di pandang oleh orang lain disekitarnya, dan dihadapan orang yang memiliki kukuasaan atas sesuatu yang orang inginkan. Tujuannya adalah untuk mempermudah seseorang dalam kehidupan sosialnya atau dalam mencapai apa yang orang inginkan.


B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Menjelaskan pengertian self monitoring
2.      Menjelaskan pengertian self presentation
3.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Self Monitoring
4.      Aspek-Aspek Self monitoring.
C.    TUJUAN MASALAH
1.      Supaya da dapat di mengerti oleh mahasisiwa sindiri
2.      Dan dapat menerapkan dalam lingkungan hidupnya
3.      Semoga dapat dimengerti oleh mahasiswa/I baik secara akademis maupun dalam komunikasi


BAB II
PEMBAHASAN

A.Self  Monitoring
1. Pengertian Self monitoring

Self monitoring merupakan konsep yang berhubungan dengan konsep pengaturan kesan (impression management) atau konsep pengaturan diri (Snyder & Gangestad, 1986). Teori tersebut nenitikberatkan perhatian pada kontrol diri individu untuk memanipulasi citra dan kesan orang lain tentang dirinya dalam melakukan interaksi sosial (Shaw & Constanzo, 1982). Individu baik secara sadar maupun tidak sadar memang selalu berusaha untuk menampilkan kesan tertentu mengenai dirinya terhadap orang lain pada saat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Menurut Snyder (Watson et al., 1984), self monitoring merupakan suatu usaha yang dilakukan individu untuk menampilkan dirinya  dihadapan orang lain dengan menggunakan petunjuk-petunjuk yang ada pada dirinya atau petunjuk-petunjuk yang ada di sekitarnya. Berdasarkan konsep ini Mark Snyder  mengajukan konsep self monitoring, yang menjelaskan mengenai proses yang dialami setiap individu dalam menampilkan impression management dihadapan orang lain.Snyder & Cantor (Fiske & Taylor. 1991) mendefinisikan selfmonitoring sebagai cara individu dalam membuat perencanaan, bertindak, dan mengatur keputusan dalam berperilaku terhadap situasi sosial. Hal ini diperkuat dengan pendapat Robbins (1996) yang menyatakan bahwa self monitoring merupakan suatu ciri kepribadian yang mengukur kemampuan individu untuk menyesuaikan perilakunya pada faktor-faktor situasional
luar.
Menurut Baron & Byrne (2004) self monitoring merupakan tingkatan individu dalam mengatur perilakunya berdasarkan situasi eksternal dan reaksi orang lain (self monitoring tinggi) atau atas dasar faktor internal seperti keyakinan, sikap, dan minat (self monitoring rendah). Berdasarkan berbagai pendapat yang telah dikemukakan oleh para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa self monitoring merupakan kemampuan individu dalam menampilkan dirinya terhadap orang lain dengan menggunakan petunjuk-petunjuk yang ada pada dirinya maupun petunjuk-petunjuk yang ada di sekitarnya guna mendapatkan informasi yang diperlukan untuk bertingkah laku yang sesuai dengan kondisi dan situasi yang dihadapi dalam lingkungan sosialnya.

2. Ciri-ciri Self monitoring
            Berdasarkan teori self monitoring, sewaktu individu akan menyesuaikan diri dengan situasi tertentu, secara umum menggunakan banyak petunjuk yang ada pada dirinya (self monitoring rendah) ataupun di sekitarnya (self monitoring tinggi) sebagai informasi. Individu dengan self monitoring tinggi selalu ingin menampilkan citra diri yang positif dihadapan orang lain. Menurut Snyder & Monson (Raven & Rubin, 1983). seorang individu yang memiliki self monitoring tinggi cenderung lebih mudah dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya dan berusaha untuk berperilaku sesuai situasi saat itu dengan menggunakan informasi yang diterimanya.
Hal ini mencerminkan bahwa individu yang mempunyai self monitoring tinggi biasanya sangat memperhatikan penyesuaian tingkah lakunya pada situasi sosial dan hubungan interpersonal yang dihadapinya. Snyder (Baron & Byrne. 1997: 169) menambahkan bahwa individu dengan self monitoring tinggi mampu untuk rnenyesuaikan diri pada situasi dan mempunyai banyak teman serta berusaha untuk menerima evaluasi positif dari orang lain. Singkatnya, individu dengan self monitoring tinggi cenderung fleksibel, penyesuaian dirinya baik dan cerdas sehingga cenderung lebih cepat mempelajari apa yang menjadi tuntutan di lingkungannya pada situasi tertentu (Wrightsman & Deaux,1981).
Selanjutnya Snyder & Cantor (Fiske & Taylor, 1991) menyatakan bahwa individu dengan self monitoring tinggi juga sangat sensitif terhadap norma sosial dan berbagai situasi yang ada di sekitarnya sehingga dapat lebih mudah untuk dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Hal ini
mencerminkan bahwa individu dengan self monitoring yang tinggi cenderung peka terhadap aturan yang ada di sekitar dirinya sehingga selain berusaha untuk menampilkan dirinya sesuai dengan tuntutan situasi (Brehm & Kassin, 1993).
Sejalan dengan pendapat tersebut. Hoyle & Sowards (Baron & Byrne, 1997) menyatakan bahwa individu dengan self monitoring tinggi cenderung melakukan analisis terhadap situasi sosial dengan cara membandingkan dirinya dengan standar perilaku sosial dan berusaha untuk mengubah dirinya sesual dengan situasi saat itu. Individu dengan self monitoring rendah memiliki ciri-ciri yang berkebalikan dengan individu yang memiliki self monitoring tinggi.
Individu yang mempunyai self monitoring rendah lebih mempercayai informasi yang bersifat internal.
 Menurut Snyder (Fiske & Taylor. 1991), individu dengan self monitoring rendah dalam menampilkan dirinya terhadap orang lain cenderung hanya didasarkan pada apa yang diyakininya adalah benar menurut dirinya sendiri. Hal ini mencerminkan bahwa individu dengan self monitoring rendah kurang peka akan hal-hal yang ada di lingkungannya sehingga kurang memperhatikan tuntutantuntutan dari lingkungannya tersebut yang ditujukan kepada dirinya.

Snyder (Baron & Byrne. 1994) menambahkan bahwa individu yang memiliki self monitoring rendah menunjukkan perilaku yang konsisten. Hal ini dikarenakan faktor internal seperti kepercayaan, sikap, dan minatnya yang mengatur tingkah lakunya (Kreitner dan Kinicki, 2005). Engel dkk (1995) juga menyatakan bahwa individu dengan self monitoring rendah tidak peduli dengan pendapat orang lain dan lebih mementingkan perasaan dan faktor internal yang dimilikinya. Tidak mengherankan apabila individu ini menjadi cenderung memegang teguh pendiriannya dan tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang berasal dan luar dirinya sehingga kurang berhasil dalam melakukan hubungan sosial (Baron & Byrne, 2004).
Hal ini mencerminkan bahwa individu dengan self monitoring rendah tidak berusaha untuk meugubah perilakunya sesuai dengan situasi dan tidak tertarik dengan informasi-informasi sosial dari lingkungan di sekitarnya. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa individu yang memiliki self monitoring tinggi menunjukkan ciri-ciri tanggap terhadap tuntutan lingkungan di sekitarnya, memperhatikan informasi sosial yang merupakan petunjuk baginya untuk menampilkan diri sesuai dengan informasi dan petunjuk tersebut, mempunyai kontrol yang baik terhadap tingkah laku yang akan ditampilkan, mampu menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berperilaku dalam situasi-situasi yang penting dan mampu mengendalikan diri, menjaga sikap, perilaku serta ekspresif. Sebaliknya, individu yang memiliki self monitoring rendah menunjukkan ciri-ciri kurang tanggap terhadap situasi-situasi yang menuntutnya untuk menampilkan dirinya, kurang memperhatikan pendapat orang lain dan kurang memperhatikan informasi sosial, kurang dapat menjaga dan tidak peduli dengan kata orang lain, kurang berhasil dalam menjalin hubungan interpersonal, perilaku dan ekspresi diri lebih dipengaruhi oleh pendapat dirinya pada situasi sekitarnya.

3. Aspek-Aspek Self monitoring
Menurut Snyder (Shaw & Constanzo, 1982) self monitoring mempunyai aspek yang meliputi:
a. Kesesuaian lingkungan sosial dengan presentasi diri seorang individu berarti menyesuaikan peran seperti yang diharapkan orang lain dalam situasi sosial.
b. Memperhatikan informasi perbandingan sosial sebagai petunjuk dalam rnengekspresikan diri agar sesuai dengan situasi tertentu berarti memperhatikan informasi eksternal yang berasal dan lingkungan sekitarnya sebagai pedoman bagi dirinya dalam berperilaku.
            c. Kemampuan mengontrol dan memodifikasi presentasi diri berarti berhubungan dengan kemampuan untuk mengontrol dan mengubah perilakunya.
d. Kesediaan untuk menggunakan kemampuan yang dimilikinya pada situasi-situasi khusus berarti mampu untuk menggunakan kemampuan yang dimilikinya pada situasi-situasi yang penting.
e. Kemampuan membentuk tingkah laku ekspresi dan presentasi diri pada situasi yang berbeda-beda agar sesuai dengan situasi di lingkungan sosialnya berarti tingkah lakunya bervariasi pada berbagai macam situasi di lingkungan sosial.

Adapun ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a.       Expressive self control

1.      Acting. termasuk didalamnya kemampuan untuk bersandiwara, berpura-pura, dan melakukan kontrol ekspresi baik secara verbal maupun non verbal serta kontrol emosi. Penderita memperlihatkan perilakunya seperti orang yang tidak menderita diabetes mellitus dengan makan dan minum yang dilakukan oleh orang yang tidak menderita diabetes mellitus.
2.      Entertaining. yaitu menjadi penyegar suasana. Penderita bersikap humoris tanpa ada perasaan tertekan akibat penyakit yang dideritanya. Penderita diabetes mellitus mengabaikan kondisinya dan berperilaku seperti penderita diabetes mellitus pada saat berinteraksi dengan orang lain.
3.       Berbicara di depan umum secara spontan. Penderita memiliki rasa percaya diri tinggi, sehingga dapat berperan pada saat berinteraksi dengan orang lain.

b.      Social Stage Presence. yaitu kemampuan untuk bertingkah laku yang sesuai dengan situasi yang dihadapi, kemampuan untuk mengubah-ubah tingkah laku dan kemampuan untuk menarik perhatian sosial. Ciricirinya adalah:
1.       Ingin tampil menonjol atau menjadi pusat perhatian. Penderita diabetes mellitus tidak merasa tertekan dengan keadaannya sehingga dapat selalu tampil di muka umum secara wajar.
2.      Suka melucu. Penderita diabetes mellitus dapat bersikap humoris pada saat berinteraksi dengan orang lain.
3.       Suka menilai kemudian memprediksi secara tepat pada suatu perilaku yang belum jelas. Penderita diabetes mellitus dapat memahami orang lain sehingga mudah dalam berkomunikasi dengan orang lain.

c.       Other directed selfpresent. yaitu kemampuan untuk memainkan peran seperti apa yang diharapkan oleh orang lain dalam suatu situasi sosial, kemampuan untuk menyenangkan orang lain dan kemampuan untuk tanggap terhadap situasi yang dihadapi. Ciri-cirinya adalah:

1.       Berusaha untuk menyenangkan orang lain. Penderita diabetes mellitus berusaha untuk dapat memotivasi orang lain dengan mengabaikan keadaan dirinya.
2.      Berusaha untuk tampil menyesuaikan diri dengan orang lain (conformity). Penderita diabetes mellitus tidak bersikap konfrontatif pada saat berinteraksi dengan orang lain.
3.       Suka menggunakan topeng untuk menutupi perasaannya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek self monitoring meliputi: expressive self control, social stage presence dan other directed self presen.


4.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Self Monitoring

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi self monitoring seseorang adalah bentuk pergaulan sosial, kebutuhan sosial (Wrightsman & Deaux, 1993). Sejak manusia dilahirkan, mereka tidak memiliki kemampuan untuk hidup sendiri. Setiap manusia selalu membutuhkan orang lain untuk memenuhi berbagai kebutuhannya. Naluri manusia untuk selalu hidup dengan orang lain menurut Soekanto disebut dengan gregariousness dan karena itu manusia juga disebut dengan social animal, hewan yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama. Sejak manusia dilahirkan, manusia sudah mempunyai dua hasrat yaitu keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya, dan keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya (Soekanto, 2001).
Di dalam hubungan antara manusia dengan manusia lain, yang paling penting adalah reaksi yang timbul sebagai akibat hubunganhubungan tersebut. Reaksi tersebut kemudian menyebabkan tindakan seseorang menjadi bertambah luas. Untuk dapat menghadapi dan menyesuaikan diri dengan kedua lingkungan tersebut di atas, manusia menggunakan pikiran, perasaan dan kehendaknya. Kesemuanya ini menimbulkan kelompok-kelompok sosial di dalam kehidupan manusia. Kelompok-kelompok sosial tersebut merupakan himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama.
Suatu himpunan manusia dapat disebut sebagai kelompok social apabila memenuhi beberapa persyaratan, yaitu :
a. Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan.
b. Ada hubungan timbal-balik antara anggota yang satu dengan anggota yang lainnya.
c. Ada suatu faktor yang dimiliki bersama, sehingga antara mereka bertambah erat. Faktor tadi dapat merupakan nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama dan lain-lain.
d. Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku.
e. Bersistem dan berproses (Soekanto, S. 2001)
Supaya hubungan antar manusia di dalam suatu masyarakat terlaksana sebagaimana diharapkan, maka dirumuskan norma-norma masyarakat. Norma-norma yang ada dalam masyarakat, mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda. Untuk membedakan kekuatan mengikat dari norma-norma tersebut, secara sosiologis dikenal adanya empat pengertian tentang norma-norma dalam masyarakat, yaitu (Soekanto, 2001).
1) Cara (usage), yang menunjukkan pada suatu bentuk perbuatan misalnya setiap orang mempunyai cara-cara tersendiri untuk minum pada waktu bertemu orang. Penyimpangan terhadap cara (usage) tidak akan mengakibatkan hukuman yang berat, tetapi hanya sekedar celaan dari individu yang berhubungan.
2) Kebiasaan (folkways), yang menunjuk pada perbuatan yang diulangulang dalam bentuk yang sama misalnya kebiasaan menghormati orang tua.
3) Tata kelakuan, yang menunjuk pada kebiasaan-kebiasaan yang tidak hanya dipandang sebagai perilaku, tetapi diterima sebagai mores atau tata kelakuan. Tata kelakuan mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia yang dilaksanakan sebagai alat pengawas, secara sadar maupun tidak sadar oleh masyarakat.
4) Adat istiadat, yang menunjuk pada tata kelakuan yang telah terintegrasi dengan pola-pola perilaku masyarakat. Sanggota masyarakat yang melanggar adat istiadat, akan menderita sanksi keras yang kadang-kadang secara tidak langsung diperlukan.
Contohnya adat dalam perkawinan.
Norma-norma tersebut di atas, setelah mengalami suatu proses, pada akhirnya akan menjadi bagian tertentu dari lembaga kemasyarakatan. Proses tersebut dinamakan proses pelembagaan, yaitu suatu proses yang dilewati oleh suatu norma yang baru untuk menjadi bagian dari salah satu lembaga kemasyarakatan. Norma tersebut dikenal masyarakat, diakui, dihargai dan kemudian ditaati dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam setiap masyarakat terdapat apa yang dinamakan pola-pola perilaku atau paterns of behavior. Pola-pola perilaku merupakan cara-cara masyarakat bertindak atau berkelakuan yang sama dan harus diikuti oleh semua anggota masyarakat bertindak atau berkelakuan yang sama dan harus diikuti oleh semua anggita masyarakat tersebut. Pola-pola perilaku dab norma-norma yang dilakukan dan dilaksanakan pada khususnya apabila seseorang berhubungan dengan orang lain dinamakan social organization) (Soekanto, 2001). Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa bentuk pergaulan sosial, kebutuhan sosial (Wrightsman & Deaux, 1993), serta latar belakang budaya merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi self monitoring
seseorang.

B.     Presentasi diri ( Self presentation )
            Saat berinteraksi dengan orang lain, saring kali perhatian kita tertuju pada bagaimana orang akan menilai kita. Kita berusaha mengontrol bagaimana orang lain berfikir mengenai kita, sehingga kita perlu melakukan impression management, yaitu usaha utuk mengatur kesan yang orang lain tangkap mengenai kita baik secara di sadari maupun tidak (schlenker, 1980). Sebagai bagian dari impression managemen kita melakukan presentasi diri (self presentation) seperti yang kita inginkan dengan bebagai macam tujuan.
            Menurut jones & pittman (1982), lima strategi presentasi diri yang memiliki tujuan yang berbeda adalah sebagai berikut :
1.      Ingratiation
Dengan tujuan agar disukai, kita menampilkan diri sebagai orang yang ingin membuat orang lain senang. Cara ini apabila dilakukan secara berlebihan, dapat membuat orang lain merasa terganggu jika orang yang menjadi sasarn tidak menyukainya atau merasa “dijilat”
2.      Self promotion
Dengan tujuan agar di anggap kompeten, kita menampilkan diri sebagai orang yang memiliki kelebihan atau kekuatan baik dalam hal kemampuan atau trait pribadi.
3.      Intimidation
Dengan tujuan agar ditakuti, kita menampilkan diri sebagai orang yang berbahaya dan menakutkan.
4.      Supplication
Dengan tujuan dikasihani, kita menampilkan diri sabagai orang yang lemah dan tergantung.
5.      Exemplification
Dengan tujuan di anggap memiliki integritas moral tinggi, kita menampilkan diri sebagai orang rela berkorban untuk orang lain.

            Selain lima strategi diatas, ada strategi presentasi diri yang lain, yaitu self handicapping yang merujuk pada segala tindakan yang dilakukan agar dapat mengeksternalisai apabila mendapat hasil negative dan menginternalisasi apabila mendapat hasil yang positif ( Berglas & Jones, 1978 ). Tujuan dari strategi ini adalah melindungi harga diri sabagi antisipasi terhadap hasil yang tidak sesuai harapan, misalnya :  menjelang ujan seorang mahasiswa mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir, ia mengalami kesulitan tidur dan buku yang ia miliki terpaksa di pinjamkan kepada teman yang mau memfotokopi karena baru saja kehilangan bukunya.
            Strategi presentasi diri lainnya adalah bask in reflected glory (BIRging) dimana orang mengasosiasikan dirinya dengan keberhasilan orang lain, bukan keberhasilan dirinya sendiri. Tujuan dari strategi ini adalah meningkatkan harga diri. Contohnya, di hari senin seseorang memakai kaos tim sepak bola kesayangannya, seelah pada hari minggu tim tersebut memastikan menjuarai kompetisi. Dengan memakai kaos itu, ia ikut merasa senang dan bangga.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            Self monitoring merupakan konsep yang berhubungan dengan konsep pengaturan. Self monitoring merupakan suatu usaha yang dilakukan individu untuk menampilkan dirinya  dihadapan orang lain dengan menggunakan petunjuk-petunjuk yang ada pada dirinya atau petunjuk-petunjuk yang ada di sekitarnya.
            Peresentasi diri (self presentation) merupakan suatu usaha yang timbul dari kita untuk menampilkan yang terbaik, supaya orang menilai kita dengan nilai yang baik. Membaca orang bagaimana menilai kita saat kita interaksi baik dengan seseorang maupun dengan sekelompok orang. Ada lima strategi presentasi diri yang memiliki tujuan yang berbeda, yaitu:
6.      Ingratiation
7.      Self promotion
8.      Intimidation
9.      Supplication
10.  Exemplification
B.     Kritik dan saran
            Demikian dengan isi makalah yang kami sajikan, bila ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaklumi. Dengan segala kerendahan hati kami, kami sebagai pemakalah mengharapkan kritik dan saran demi membangunnya makalah ini, baik dari Bapak atau Ibu dosen maupun dari teman-teman sekalian. Terimakasih.


DAFTAR PUSTAKA

Ø  Sallito W.Sarwono, Eko A. Meinarno, Jakarta, Selemba Harmanika, 2011
Ø  Ahmdi,  Abu, H, Drs. 1999, psikologi social, Jakarta, Rineka Cipta.