BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Setiap orang akan berbeda dalam cara mempresentasikan diri
mereka. Beberapa orang lebih menyadari tentang kesan publik mereka, beberapa
orang mungkin lebih menggunakan persentasi diri yang straregik, sementara yang
lain lebih menyukai pembenaran diri (verifikasi diri). Menurut Mark Snyder
(1987), perbedaan ini berkaitan dengan suatu ciri sifat kepribadian yang
disebut dengan self-monitoring yaitu kecenderungan mengatur perilaku untuk
menyesuaikan dengan tuntutan-tuntutaan situasi sosial. Dengan demikian, self-monitoring
adalah kecenderungan untuk merubah perilaku dalam merespon terhadap presentasi
diri yang dipusatkan pada situasi (Brehm & Kassin, 1993). Atau menurut
Worchel, dkk. (2000), self-monitoring adalah menyesuaikan perilaku terhadap
norma-norma situasional dan harapan-harapan dari orang lain. Sementara Brigham
(1991) menyatakan self-monitoring merupakan proses dimana individu mengadakan
pemantauan (memonitor) terhadap pengelolaan kesan yang telah dilakukannya.
Sebuah fakta dalam kehidupan
sehari-hari bahwa sebuah kebutuhan untuk menampilkan diri dengan baik
atau membuat sebuah kesan baik dihadapan orang lain, perilaku tersebut mengacu
pada Self Presentation atau managemen kesan. Self
Presentation muncul ketika seseorang sadar bahwa dia di pandang oleh orang
lain disekitarnya, dan dihadapan orang yang memiliki kukuasaan atas sesuatu
yang orang inginkan. Tujuannya adalah untuk mempermudah seseorang dalam
kehidupan sosialnya atau dalam mencapai apa yang orang inginkan.
B. RUMUSAN
MASALAH
1.
Menjelaskan
pengertian self monitoring
2.
Menjelaskan
pengertian self presentation
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Self Monitoring
4.
Aspek-Aspek
Self monitoring.
C. TUJUAN
MASALAH
1.
Supaya
da dapat di mengerti oleh mahasisiwa sindiri
2.
Dan
dapat menerapkan dalam lingkungan hidupnya
3.
Semoga
dapat dimengerti oleh mahasiswa/I baik secara akademis maupun dalam komunikasi
BAB II
PEMBAHASAN
A.Self Monitoring
1. Pengertian Self monitoring
Self
monitoring merupakan
konsep yang berhubungan dengan konsep pengaturan kesan (impression
management) atau konsep pengaturan diri (Snyder & Gangestad, 1986).
Teori tersebut nenitikberatkan perhatian pada kontrol diri individu untuk
memanipulasi citra dan kesan orang lain tentang dirinya dalam melakukan
interaksi sosial (Shaw & Constanzo, 1982). Individu baik secara sadar
maupun tidak sadar memang selalu berusaha untuk menampilkan kesan tertentu mengenai
dirinya terhadap orang lain pada saat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Menurut Snyder
(Watson et al., 1984), self monitoring merupakan suatu usaha yang
dilakukan individu untuk menampilkan dirinya dihadapan orang lain dengan menggunakan
petunjuk-petunjuk yang ada pada dirinya atau petunjuk-petunjuk yang ada di
sekitarnya. Berdasarkan konsep ini Mark Snyder
mengajukan konsep self monitoring, yang menjelaskan mengenai
proses yang dialami setiap individu dalam menampilkan impression management dihadapan
orang lain.Snyder & Cantor (Fiske & Taylor. 1991) mendefinisikan selfmonitoring
sebagai cara individu dalam membuat perencanaan, bertindak, dan mengatur
keputusan dalam berperilaku terhadap situasi sosial. Hal ini diperkuat dengan
pendapat Robbins (1996) yang menyatakan bahwa self monitoring merupakan
suatu ciri kepribadian yang mengukur kemampuan individu untuk menyesuaikan
perilakunya pada faktor-faktor situasional
luar.
Menurut Baron &
Byrne (2004) self monitoring merupakan tingkatan individu dalam mengatur
perilakunya berdasarkan situasi eksternal dan reaksi orang lain (self
monitoring tinggi) atau atas dasar faktor internal seperti keyakinan,
sikap, dan minat (self monitoring rendah). Berdasarkan berbagai pendapat
yang telah dikemukakan oleh para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa self
monitoring merupakan kemampuan individu dalam menampilkan dirinya terhadap
orang lain dengan menggunakan petunjuk-petunjuk yang ada pada dirinya maupun petunjuk-petunjuk
yang ada di sekitarnya guna mendapatkan informasi yang diperlukan untuk bertingkah
laku yang sesuai dengan kondisi dan situasi yang dihadapi dalam lingkungan
sosialnya.
2.
Ciri-ciri Self monitoring
Berdasarkan teori self monitoring,
sewaktu individu akan menyesuaikan diri dengan situasi tertentu, secara umum
menggunakan banyak petunjuk yang ada pada dirinya (self monitoring rendah)
ataupun di sekitarnya (self monitoring tinggi) sebagai informasi.
Individu dengan self monitoring tinggi selalu ingin menampilkan citra
diri yang positif dihadapan orang lain. Menurut Snyder & Monson
(Raven & Rubin, 1983). seorang individu yang memiliki self
monitoring tinggi cenderung lebih mudah dipengaruhi oleh lingkungan
sosialnya dan berusaha untuk berperilaku sesuai situasi saat itu dengan
menggunakan informasi yang diterimanya.
Hal ini mencerminkan
bahwa individu yang mempunyai self monitoring tinggi biasanya sangat
memperhatikan penyesuaian tingkah lakunya pada situasi sosial dan
hubungan interpersonal yang dihadapinya. Snyder (Baron & Byrne.
1997: 169) menambahkan bahwa individu dengan self monitoring tinggi
mampu untuk rnenyesuaikan diri pada situasi dan mempunyai banyak teman
serta berusaha untuk menerima evaluasi positif dari orang lain.
Singkatnya, individu dengan self monitoring tinggi cenderung fleksibel,
penyesuaian dirinya baik dan cerdas sehingga cenderung lebih cepat
mempelajari apa yang menjadi tuntutan di lingkungannya pada situasi
tertentu (Wrightsman & Deaux,1981).
Selanjutnya Snyder
& Cantor (Fiske & Taylor, 1991) menyatakan bahwa individu dengan self
monitoring tinggi juga sangat sensitif terhadap norma sosial dan berbagai
situasi yang ada di sekitarnya sehingga dapat lebih mudah untuk dipengaruhi
oleh lingkungan sosialnya. Hal ini
mencerminkan bahwa individu dengan self
monitoring yang tinggi cenderung peka terhadap aturan yang ada di sekitar
dirinya sehingga selain berusaha untuk menampilkan dirinya sesuai dengan
tuntutan situasi (Brehm & Kassin, 1993).
Sejalan dengan
pendapat tersebut. Hoyle & Sowards (Baron & Byrne, 1997) menyatakan
bahwa individu dengan self monitoring tinggi cenderung melakukan
analisis terhadap situasi sosial dengan cara membandingkan dirinya dengan
standar perilaku sosial dan berusaha untuk mengubah dirinya sesual dengan
situasi saat itu. Individu dengan self monitoring rendah memiliki
ciri-ciri yang berkebalikan dengan individu yang memiliki self monitoring tinggi.
Individu yang mempunyai self monitoring rendah
lebih mempercayai informasi yang bersifat internal.
Menurut Snyder (Fiske & Taylor. 1991), individu
dengan self monitoring rendah dalam menampilkan dirinya terhadap orang
lain cenderung hanya didasarkan pada apa yang diyakininya adalah benar menurut
dirinya sendiri. Hal ini mencerminkan bahwa individu dengan self monitoring rendah
kurang peka akan hal-hal yang ada di lingkungannya sehingga kurang
memperhatikan tuntutantuntutan dari lingkungannya tersebut yang ditujukan
kepada dirinya.
Snyder (Baron &
Byrne. 1994) menambahkan bahwa individu yang memiliki self monitoring rendah
menunjukkan perilaku yang konsisten. Hal ini dikarenakan faktor internal
seperti kepercayaan, sikap, dan minatnya yang mengatur tingkah lakunya
(Kreitner dan Kinicki, 2005). Engel dkk (1995) juga menyatakan bahwa individu
dengan self monitoring rendah tidak peduli dengan pendapat orang lain
dan lebih mementingkan perasaan dan faktor internal yang dimilikinya. Tidak
mengherankan apabila individu ini menjadi cenderung memegang teguh pendiriannya
dan tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang berasal dan luar dirinya sehingga
kurang berhasil dalam melakukan hubungan sosial (Baron & Byrne, 2004).
Hal ini
mencerminkan bahwa individu dengan self monitoring rendah tidak berusaha
untuk meugubah perilakunya sesuai dengan situasi dan tidak tertarik
dengan informasi-informasi sosial dari lingkungan di sekitarnya. Berdasarkan
penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa individu yang memiliki self
monitoring tinggi menunjukkan ciri-ciri tanggap terhadap tuntutan
lingkungan di sekitarnya, memperhatikan informasi sosial yang merupakan
petunjuk baginya untuk menampilkan diri sesuai dengan informasi dan
petunjuk tersebut, mempunyai kontrol yang baik terhadap tingkah laku
yang akan ditampilkan, mampu menggunakan kemampuan yang dimilikinya
untuk berperilaku dalam situasi-situasi yang penting dan mampu
mengendalikan diri, menjaga sikap, perilaku serta ekspresif. Sebaliknya,
individu yang memiliki self monitoring rendah menunjukkan
ciri-ciri kurang tanggap terhadap situasi-situasi yang menuntutnya untuk
menampilkan dirinya, kurang memperhatikan pendapat orang lain dan kurang
memperhatikan informasi sosial, kurang dapat menjaga dan tidak peduli
dengan kata orang lain, kurang berhasil dalam menjalin hubungan
interpersonal, perilaku dan ekspresi diri lebih dipengaruhi oleh
pendapat dirinya pada situasi sekitarnya.
3.
Aspek-Aspek Self monitoring
Menurut Snyder
(Shaw & Constanzo, 1982) self monitoring mempunyai aspek yang
meliputi:
a. Kesesuaian
lingkungan sosial dengan presentasi diri seorang individu berarti menyesuaikan
peran seperti yang diharapkan orang lain dalam situasi sosial.
b. Memperhatikan
informasi perbandingan sosial sebagai petunjuk dalam rnengekspresikan diri agar
sesuai dengan situasi tertentu berarti memperhatikan informasi eksternal yang
berasal dan lingkungan sekitarnya sebagai pedoman bagi dirinya dalam
berperilaku.
c.
Kemampuan mengontrol dan memodifikasi presentasi diri berarti berhubungan
dengan kemampuan untuk mengontrol dan mengubah perilakunya.
d. Kesediaan untuk
menggunakan kemampuan yang dimilikinya pada situasi-situasi khusus berarti
mampu untuk menggunakan kemampuan yang dimilikinya pada situasi-situasi yang
penting.
e. Kemampuan
membentuk tingkah laku ekspresi dan presentasi diri pada situasi yang
berbeda-beda agar sesuai dengan situasi di lingkungan sosialnya berarti tingkah
lakunya bervariasi pada berbagai macam situasi di lingkungan sosial.
Adapun ciri-cirinya
adalah sebagai berikut:
a.
Expressive
self control
1. Acting. termasuk didalamnya kemampuan untuk bersandiwara, berpura-pura, dan
melakukan kontrol ekspresi baik secara verbal maupun non verbal serta kontrol
emosi. Penderita memperlihatkan perilakunya seperti orang yang tidak menderita diabetes
mellitus dengan makan dan minum yang dilakukan oleh orang yang tidak menderita
diabetes mellitus.
2. Entertaining. yaitu menjadi penyegar suasana. Penderita
bersikap humoris tanpa ada perasaan tertekan akibat penyakit yang dideritanya.
Penderita diabetes mellitus mengabaikan kondisinya dan berperilaku
seperti penderita diabetes mellitus pada saat berinteraksi dengan orang
lain.
3. Berbicara di depan umum secara spontan.
Penderita memiliki rasa percaya diri tinggi, sehingga dapat berperan pada saat
berinteraksi dengan orang lain.
b.
Social
Stage Presence. yaitu
kemampuan untuk bertingkah laku yang sesuai dengan situasi yang dihadapi,
kemampuan untuk mengubah-ubah tingkah laku dan kemampuan untuk menarik
perhatian sosial. Ciricirinya adalah:
1.
Ingin tampil menonjol atau menjadi pusat
perhatian. Penderita diabetes mellitus tidak merasa tertekan dengan
keadaannya sehingga dapat selalu tampil di muka umum secara wajar.
2.
Suka
melucu. Penderita diabetes mellitus dapat bersikap humoris pada saat
berinteraksi dengan orang lain.
3.
Suka menilai kemudian memprediksi secara tepat
pada suatu perilaku yang belum jelas. Penderita diabetes mellitus dapat
memahami orang lain sehingga mudah dalam berkomunikasi dengan orang lain.
c.
Other
directed selfpresent. yaitu
kemampuan untuk memainkan peran seperti apa yang diharapkan oleh orang lain
dalam suatu situasi sosial, kemampuan untuk menyenangkan orang lain dan
kemampuan untuk tanggap terhadap situasi yang dihadapi. Ciri-cirinya adalah:
1. Berusaha untuk menyenangkan orang lain.
Penderita diabetes mellitus berusaha untuk dapat memotivasi orang lain
dengan mengabaikan keadaan dirinya.
2.
Berusaha
untuk tampil menyesuaikan diri dengan orang lain (conformity). Penderita
diabetes mellitus tidak bersikap konfrontatif pada saat berinteraksi
dengan orang lain.
3.
Suka menggunakan topeng untuk menutupi
perasaannya.
Berdasarkan uraian
di atas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek self monitoring meliputi: expressive
self control, social stage presence dan other directed self
presen.
4.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Self
Monitoring
Faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi self monitoring seseorang adalah bentuk pergaulan
sosial, kebutuhan sosial (Wrightsman & Deaux, 1993). Sejak manusia
dilahirkan, mereka tidak memiliki kemampuan untuk hidup sendiri. Setiap manusia
selalu membutuhkan orang lain untuk memenuhi berbagai kebutuhannya. Naluri
manusia untuk selalu hidup dengan orang lain menurut Soekanto disebut dengan gregariousness
dan karena itu manusia juga disebut dengan social animal, hewan yang
mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama. Sejak manusia dilahirkan,
manusia sudah mempunyai dua hasrat yaitu keinginan untuk menjadi satu dengan
manusia lain di sekelilingnya, dan keinginan untuk menjadi satu dengan suasana
alam sekelilingnya (Soekanto, 2001).
Di dalam hubungan
antara manusia dengan manusia lain, yang paling penting adalah reaksi yang
timbul sebagai akibat hubunganhubungan tersebut. Reaksi tersebut kemudian
menyebabkan tindakan seseorang menjadi bertambah luas. Untuk dapat menghadapi
dan menyesuaikan diri dengan kedua lingkungan tersebut di atas, manusia menggunakan
pikiran, perasaan dan kehendaknya. Kesemuanya ini menimbulkan kelompok-kelompok
sosial di dalam kehidupan manusia. Kelompok-kelompok sosial tersebut merupakan
himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama.
Suatu himpunan
manusia dapat disebut sebagai kelompok social apabila memenuhi beberapa
persyaratan, yaitu :
a. Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa
dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan.
b. Ada hubungan timbal-balik antara anggota
yang satu dengan anggota yang lainnya.
c. Ada suatu faktor yang dimiliki bersama,
sehingga antara mereka bertambah erat. Faktor tadi dapat merupakan nasib yang
sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama dan
lain-lain.
d. Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola
perilaku.
e. Bersistem dan berproses (Soekanto, S.
2001)
Supaya hubungan
antar manusia di dalam suatu masyarakat terlaksana sebagaimana diharapkan, maka
dirumuskan norma-norma masyarakat. Norma-norma yang ada dalam masyarakat,
mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda. Untuk membedakan kekuatan mengikat
dari norma-norma tersebut, secara sosiologis dikenal adanya empat pengertian
tentang norma-norma dalam masyarakat, yaitu (Soekanto, 2001).
1) Cara (usage),
yang menunjukkan pada suatu bentuk perbuatan misalnya setiap orang mempunyai
cara-cara tersendiri untuk minum pada waktu bertemu orang. Penyimpangan
terhadap cara (usage) tidak akan mengakibatkan hukuman yang berat,
tetapi hanya sekedar celaan dari individu yang berhubungan.
2) Kebiasaan (folkways),
yang menunjuk pada perbuatan yang diulangulang dalam bentuk yang sama misalnya
kebiasaan menghormati orang tua.
3) Tata kelakuan,
yang menunjuk pada kebiasaan-kebiasaan yang tidak hanya dipandang sebagai
perilaku, tetapi diterima sebagai mores atau tata kelakuan. Tata
kelakuan mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia yang
dilaksanakan sebagai alat pengawas, secara sadar maupun tidak sadar oleh
masyarakat.
4) Adat istiadat,
yang menunjuk pada tata kelakuan yang telah terintegrasi dengan pola-pola
perilaku masyarakat. Sanggota masyarakat yang melanggar adat istiadat, akan menderita
sanksi keras yang kadang-kadang secara tidak langsung diperlukan.
Contohnya adat dalam perkawinan.
Norma-norma tersebut di atas, setelah
mengalami suatu proses, pada akhirnya akan menjadi bagian tertentu dari lembaga
kemasyarakatan. Proses tersebut dinamakan proses pelembagaan, yaitu suatu
proses yang dilewati oleh suatu norma yang baru untuk menjadi bagian dari salah
satu lembaga kemasyarakatan. Norma tersebut dikenal masyarakat, diakui, dihargai
dan kemudian ditaati dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam setiap
masyarakat terdapat apa yang dinamakan pola-pola perilaku atau paterns of
behavior. Pola-pola perilaku merupakan cara-cara masyarakat bertindak atau
berkelakuan yang sama dan harus diikuti oleh semua anggota masyarakat bertindak
atau berkelakuan yang sama dan harus diikuti oleh semua anggita masyarakat
tersebut. Pola-pola perilaku dab norma-norma yang dilakukan dan dilaksanakan
pada khususnya apabila seseorang berhubungan dengan orang lain dinamakan social
organization) (Soekanto, 2001). Berdasarkan uraian di atas dapat
diketahui bahwa bentuk pergaulan sosial, kebutuhan sosial (Wrightsman &
Deaux, 1993), serta latar belakang budaya merupakan faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi self monitoring
seseorang.
B. Presentasi
diri ( Self presentation )
Saat
berinteraksi dengan orang lain, saring kali perhatian kita tertuju pada
bagaimana orang akan menilai kita. Kita berusaha mengontrol bagaimana orang
lain berfikir mengenai kita, sehingga kita perlu melakukan impression management, yaitu usaha utuk mengatur kesan yang orang
lain tangkap mengenai kita baik secara di sadari maupun tidak (schlenker,
1980). Sebagai bagian dari impression
managemen kita melakukan presentasi diri (self presentation) seperti yang kita inginkan dengan bebagai macam
tujuan.
Menurut
jones & pittman (1982), lima strategi presentasi diri yang memiliki tujuan
yang berbeda adalah sebagai berikut :
1.
Ingratiation
Dengan tujuan agar disukai, kita menampilkan
diri sebagai orang yang ingin membuat orang lain senang. Cara ini apabila
dilakukan secara berlebihan, dapat membuat orang lain merasa terganggu jika
orang yang menjadi sasarn tidak menyukainya atau merasa “dijilat”
2.
Self
promotion
Dengan tujuan agar di anggap kompeten, kita
menampilkan diri sebagai orang yang memiliki kelebihan atau kekuatan baik dalam
hal kemampuan atau trait pribadi.
3.
Intimidation
Dengan tujuan agar ditakuti, kita menampilkan
diri sebagai orang yang berbahaya dan menakutkan.
4.
Supplication
Dengan tujuan dikasihani, kita menampilkan
diri sabagai orang yang lemah dan tergantung.
5.
Exemplification
Dengan tujuan di anggap memiliki integritas
moral tinggi, kita menampilkan diri sebagai orang rela berkorban untuk orang
lain.
Selain lima strategi diatas, ada
strategi presentasi diri yang lain, yaitu self
handicapping yang merujuk pada segala tindakan yang dilakukan agar dapat
mengeksternalisai apabila mendapat hasil negative dan menginternalisasi apabila
mendapat hasil yang positif ( Berglas & Jones, 1978 ). Tujuan dari strategi
ini adalah melindungi harga diri sabagi antisipasi terhadap hasil yang tidak
sesuai harapan, misalnya : menjelang ujan seorang mahasiswa mengatakan
bahwa dalam beberapa hari terakhir, ia mengalami kesulitan tidur dan buku yang
ia miliki terpaksa di pinjamkan kepada teman yang mau memfotokopi karena baru saja
kehilangan bukunya.
Strategi presentasi diri lainnya
adalah bask in reflected glory (BIRging)
dimana orang mengasosiasikan dirinya dengan keberhasilan orang lain, bukan
keberhasilan dirinya sendiri. Tujuan dari strategi ini adalah meningkatkan
harga diri. Contohnya, di hari senin
seseorang memakai kaos tim sepak bola kesayangannya, seelah pada hari minggu
tim tersebut memastikan menjuarai kompetisi. Dengan memakai kaos itu, ia ikut
merasa senang dan bangga.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Self monitoring merupakan konsep yang berhubungan dengan
konsep pengaturan. Self monitoring merupakan
suatu usaha yang dilakukan individu untuk menampilkan dirinya dihadapan orang lain dengan menggunakan
petunjuk-petunjuk yang ada pada dirinya atau petunjuk-petunjuk yang ada di
sekitarnya.
Peresentasi
diri (self presentation) merupakan
suatu usaha yang timbul dari kita untuk menampilkan yang terbaik, supaya orang
menilai kita dengan nilai yang baik. Membaca orang bagaimana menilai kita saat
kita interaksi baik dengan seseorang maupun dengan sekelompok orang. Ada lima
strategi presentasi diri yang memiliki tujuan yang berbeda, yaitu:
6.
Ingratiation
7.
Self
promotion
8.
Intimidation
9.
Supplication
10. Exemplification
B. Kritik
dan saran
Demikian
dengan isi makalah yang kami sajikan, bila ada kesalahan dalam penulisan mohon
dimaklumi. Dengan segala kerendahan hati kami, kami sebagai pemakalah
mengharapkan kritik dan saran demi membangunnya makalah ini, baik dari Bapak
atau Ibu dosen maupun dari teman-teman sekalian. Terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Ø Sallito W.Sarwono, Eko A. Meinarno, Jakarta,
Selemba Harmanika, 2011
Ø Ahmdi, Abu, H, Drs. 1999, psikologi social, Jakarta, Rineka Cipta.
Ø http://anna-w--fpsi09.web.unair.ac.id/artikel_detail-59557-Psikologi%20-Self%20Presentation%20.html
